•  

    Pengertian Tawakkal

    {[['']]}
    Silahkan Print Artikel PDF
    بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


    Tawakkal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah dengan penuh kepercayaan kepadaNya disertai mengambil sebab yang diizinkan syariat. (Qoulul Mufid 2/52). Berdasarkan pengertian ini, dapat disimpulkan bahwa tawakkal yang dilakukan seseorang bisa dinilai sebagai tawakkal yang dibenarkan jika terpenuhi dua syarat: [1] Kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah dan [2] Menggunakan sebab yang diizinkan syariat.
    Kita ketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling bertawakkal kepada Allah. Meskipun demikian, dalam perjalanan dakwahnya, beliau melakukan usaha dan menggunakan beberapa sebab yang diziinkan syariat. Ketika hijrah ke Madinah beliau menyewa orang badui yang bernama Abdullah bin ‘Uraiqith untuk dijadikan sebagai penunjuk jalan. Kita paham betul bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yakin Allah bisa menunjukkan jalan hijrahnya. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menyewa orang lain sebagai penunjuk jalannya menuju Madinah. Ini hanya sekelumit contoh dari sekian perjalanan dakwah beliau.
    Sesungguhnya Allah, Dzat yang Hakim, dengan hikmahNya, Dia menjadikan segala sesuatu itu ada sebabnya. Maka bagian dari keyakinan terhadap hikmah Allah adalah menggunakan sebab yang diizinkan syariat ketika hendak menmperoleh sesuatu. Sebaliknya orang yang melakukan sesuatu namun tidak menggunakan sebab yang diizinkan syariat maka dia dianggap telah mengingkari hikmah Allah.

    Keutamaan Bertawakkal

    1. Tawakkal adalah setengah agama
    Sebagaimana yang tercantum dalam surat Al Fatihah ayat 5, Allah berfirman, yang artinya: “Hanya kepadaMu kami beribadah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan.” Para ahli tafsir menjelaskan bahwa induk Al Qur’an adalah surat Al Fatihah. Sedangkan inti dari surat Al Fatihah adalah ayat yang ke-5 di atas. Dengan kata lain, ajaran yang terkandung dalam ayat ini merupakan inti dari ajaran islam. Karena bagian inti dari islam adalah beribadah hanya kepada Allah semata. Sementara kita tidak mungkin bisa mewujudkan tujuan ini kecuali hanya dengan bantuan dari Allah. Penggalan pertama ayat ini: “hanya kepadaMu kami beribadah” merupakan tujuan ajaran islam, sedangkan penggalan kedua: hanya kepadaMu kami memohon pertolongan” merupakan sarana untuk mewujudkan tujuan inti ajaran islam tersebut.
    2. Tawakkal merupakan pondasi tegaknya iman dan terwujudnya amal shaleh
    Ibnul Qoyyim menyatakan, “Tawakkal merupakan pondasi tegaknya iman, ihsan dan terwujudnya seluruh amal shaleh. Kedudukan tawakkal terhadap amal seseorang itu sebagaimana kedudukan rangka tubuh bagi kepala. Maka sebagaimana kepala itu tidak bisa tegak kecuali jika ada rangka tubuh, demikian pula iman dan tiang-tiang iman serta amal shaleh tidak bisa tegak kecuali di atas pondasi tawakkal.” (Dinukil dari Fathul Majid 341)
    3. Tawakkal merupakan bukti iman seseorang
    Allah berfirman, yang artinya: “Bertawakkal-lah kalian hanya kepada Allah jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Al Maidah: 23). Ayat ini menunjukkan bahwa tawakkal hanya kepada Allah merupakan bagian dari iman dan bahkan syarat terwujudnya iman.
    4. Tawakkal merupakan amal para Nabi ‘alahimus shalatu was salam
    Hal ini sebagaimana keterangan Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma ketika menjelaskan satu kalimat: “hasbunallaah wa ni’mal wakiil” yang artinya, “Cukuplah Allah (menjadi penolong kami) dan Dia sebaik-baik Dzat tempat bergantungnya tawakkal.” Beliau mengatakan, “Sesungguhnya kalimat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim ‘alahis shalatu was salam ketika beliau dilempar ke api. Dan juga yang diucapkan Nabi Muhammad ‘alahis shalatu was salam ketika ada orang yang mengabarkan bahwa beberapa suku kafir jazirah arab telah bersatu untuk menyerang kalian (kaum muslimin)…” (HR. Al Bukhari & An Nasa’i).
    5. Orang yang bertawakkal kepada Allah akan dijamin kebutuhannya
    Allah berfirman, yang artinya, “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhannya).” (QS. At Thalaq: 3)

    Macam-macam Tawakkal

    Ditinjau dari sisi tujuanya, tawakkal dibagi menjadi dua macam:
    1. Tawakkal kepada Allah
    Bertawakkal kepada Allah merupakan bentuk ibadah yang sangat agung, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Tawakkal kepada Allah baru akan sempurna jika disertai keadaan hati yang merasa butuh kepada Allah dan merendahkan diri kepadaNya serta mengagungkannya.
    2. Tawakkal kepada selain Allah
    Bertawakkal kepada selain Allah ada beberapa bentuk:
    • Tawakkal dalam hal-hal yang tidak mampu diwujudkan kecuali oleh Allah, seperti menurunkan hujan, tolak balak, tercukupinya rizki dst. Tawakkal jenis ini hukumnya syirik besar.
    • Tawakkal dalam hal-hal yang hanya mampu dilakukan oleh Allah namun Allah jadikan sebagian makhluqnya sebagai sebab untuk terwujudnya hal tersebut. Misalnya kesehatan, tercukupinya rizqi, jaminan keamanan, dst. Yang bisa mewujudkan semua ini hanyalah Allah. Namun Allah jadikan dokter dan obat sebab terwujudnya kesehatan, Allah jadikan suami sebagai sebab tercukupinya rizqi keluarganya, Allah jadikan petugas keamanan sebagai sebab terwujudnya keamanan, dst.. Maka jika ada orang yang bersandar pada sebab tersebut untuk mewujudkan hal yang diinginkan maka hukumnya syirik kecil, atau sebagian ulama menyebut jenis syirik semacam ini dengan syirik khofi (samar). Namun sayangnya banyak orang yang kurang menyadari hal ini. Sering kita temukan ada orang yang terlalu memasrahkan kesembuhannya pada obat atau dokter. Termasuk juga ketergantungan hati para istri terhadap suaminya dalam masalah rizqi. Seolah telah putus harapannya untuk hidup ketika ditinggal mati suaminya… Semoga kita diselamatkan oleh Allah dari bencana yang sering menimpa hati manusia ini..
    • Tawakkal dalam arti mewakilkan atau menugaskan orang lain untuk melakukan tugasnya. Tawakkal jenis ini hukumnya mubah selama tidak disertai jiwa merasa butuh dan penyandaran hati kepada orang tersebut.

    Arti Penting Tawakkal Dalam Beribadah

    Terkait dengan masalah tawakkal, terdapat pelajaran yang sangat berharga dari keterangan Ibnul Qoyyim dalam Al Fawaid. Berikut adalah saduran dengan beberapa tambahan dari perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah:
    Perlu kita pahami bahwa asas dari segala kebaikan adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi. Karenanya para ulama sepakat bahwa asal dan sumber segala perbuatan baik yang dilakukan oleh hamba adalah karena nikmat Allah berupa taufiq yang Allah berikan kepadaNya. Para ulama juga sepakat bahwa asal dan sumber segala perbuatan buruk yang dilakukan oleh hamba adalah karena Allah meninggalkannya dan tidak memberikan taufiq kepadanya, yang pada hakekatnya ini merupakan hukuman yang Allah berikan kepadanya. Nabi ‘alahis shalatu was salam bersabda dalam sebuah hadis qudsi, “…barangsiapa yang mendapati kebaikan maka hendaknya dia memuji Allah dan barangsiapa yang mendapati selain itu maka hendaknya dia tidak menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR. Muslim).
    Ulama juga sepakat bahwa yang dimaksud orang yang mendapatkan taufiq adalah orang yang tidak Allah biarkan untuk bersandar pada dirinya sendiri, namun jadikan dirinya sebagai orang yang selalu bersandar kepadaNya. Sebaliknya orang yang tidak diberi taufiq adalah orang yang dibiarkan oleh Allah untuk senantiasa bersandar pada dirinya sendiri dan lupa untuk bersandar kepada Allah.
    Oleh karena itu, jika asas kebaikan adalah taufiq, sementara taufiq itu ada di tangan Allah dan bukan di tangan hamba, maka kunci pokok untuk bisa mendapatkan taufiq adalah dengan banyak berdo’a, disertai hati yang merasa butuh, penuh harap dan cemas dalam meminta taufiq kepadaNya. Siapa yang memiliki kunci yang istimewa ini, itu berarti tanda bahwa Allah berkehendak untuk membukakan pintu taufiq kepadanya. sebaliknya, orang yang tidak memiliki kunci ini maka pintu taufiq akan senantiasa tertutup untuknya. Mari sejenak kita pahami pernyataan Ibnul Qoyyim di atas. Dengan memahami apa yang beliau sampaikan, kita berharap bisa termasuk orang yang mendapatkan taufiq.
    Berdasarkan keterangan beliau, orang yang ingin mendapatkan taufiq dalam beribadah kepada Allah, dituntut untuk senantiasa berusaha bersyukur kepada Allah terhadap hidayah yang Allah berikan dan berusaha untuk memohon kepada Allah agar taufiq tersebut dikekalkan dalam dirinya. Disamping itu, dia juga berusaha untuk senantiasa memohon kepada Allah agar dia dijauhkan dari segala bentuk perbuatan buruk yang merupakan sebab terputusnya taufiq.
    Oleh karena itu, termasuk di antara ciri ahli taufiq (orang yang mendapat taufiq) adalah orang yang tidak percaya diri dalam agamanya dan tidak yakin mampu menjamin tetapnya hidayah yang ada pada dirinya. Dan ini merupakan kebiasaan Nabi Muhammad alahis shalatu was salam dan para sahabatnya dan sifat orang-orang soleh yang mengikuti jejak mereka. Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah kebiasaan beliau ketika pagi dan sore membaca: Yaa hayyu yaa qoyyuum, bi rahmatika astaghiitsu, ashlih-lii sya’-nii kullahuu, wa laa takilnii ‘alaa nafsii tharfata ‘ainin. [Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Yang mengurusi kehidupan makhluqNya, dengan rahmatMu aku memohon pertolongan, perbaikilah seluruh urusanku, dan jangan Engkau pasrahkan pada diriku sekejap matapun] (HR. An Nasa’i dan Al Hakim, dishahihkan oleh Al Albani)
    Nabi Muhammad ‘alahis shalatu was salam sadar bahwa dirinya adalah seorang utusan yang dilindungi oleh Allah dari kesesatan. Namun demikian, beliau tetap membiasakan do’a ini, yang menunjukkan bahwa beliau selalu memasrahkan urusannya, baik dunia maupun akhiratnya hanya kepada Allah semata. Beliau juga memohon agar jangan sampai itu dipasrahkan pada diri beliau sendiri.
    Kemudian sebaliknya, sebab utama manusia sesat adalah karena tidak mendapat taufiq dari Allah. Dan umumnya ini terjadi pada orang yang terlalu berpangku pada kemampuan dirinya, atau pada orang yang merasa sombong dengan amalnya sehingga merasa pasti masuk surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Ibn Mas’ud, di mana Nabi alaihis shalatu was salam bersabda: ”… ada orang yang beramal dengan amalan penduduk surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga tinggal satu hasta. Namun ketetapan (catatan taqdir) telah mendahuluinya, kemudian dia melakukan perbuatan penduduk neraka dan akhirnya dia masuk ke neraka…” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Dijelaskan oleh sebagian ulama, bahwa salah satu sebab mengapa orang ini menjadi sesat dan mendapatkan su’ul khotimah adalah karena orang ini merasa sudah banyak beramal sehingga menyebabkan dia sombong dan selanjutnya tidak lagi butuh pada hidayah Allah. Akhirnya dia menjadi orang yang terlalu percaya diri dan berpangku pada pribadinya. Kemudian Allah tidak berikan hidayah kepadanya dan jadilah dia orang yang sesat. Semoga Allah melindungi kita… 

    [Ammi Nur Baits]


    ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين
    Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Khazanah Islam Ku

    0 komentar:

    Poskan Komentar


    Terima Kasih Telah Berkunjung di http://khazanahislamku.blogspot.com/

    Berikan Komentar dengan Penuh ETIKA untuk kita Diskusikan bersama

    Next Prev home
     

    About Khazanah Islam Ku

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Kami membuat blog ini adalah sebagai wahana komunikasi bertukar pikiran dengan para pembaca, menciptakan suatu media untuk berbagi artikel, cerita, tips dan lain-lain agar lebih bermanfaat sebagaimana telah diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

    “Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara : shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya”.

    “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).